KETERAMPILAN MENJELASKAN PEMBELAJARAN
AFIYATUL
FADILAH
Program Pendidikan Agama Islam STAI Salahuddin Pasuruan
afiya1513@gmail.com
Abstrak: Keterampilan menjelaskan adalah bagian dari pembelajaran microtecahing. Keterampilan menjelaskan merupakan keterampilan dasar yang perlu dimiliki oleh seorang guru. Selain dapat menguasai materi, guru harus bisa mengolah materi dalam menyampaikannya pada peserta didik. Dalam satu kelas terdiri dari sekitar 26 peserta didik yang tentunya heterogen dari pola pikirnya. Sebagai seorang guru, teknik dan strategi menjelaskan harus dikuasai untuk menyampaikan pengetahuan pada 26 peserta didik tersebut. Teknik dan strategi tersebut dikemas dalam bentuk seni atau keterampilan dalam menjelaskan materi.
Kata Kunci: Menerapkan Keterampilan menjelaskan.
A. PENDAHULUAN
Pelaksanaan keterampilan menjelaskan pada guru sangatlah penting, karena keterampilan menjelaskan pada guru tidak terlepas dari peran anak di sekolah dan di rumah. Di sekolah guru memiliki peran sebagai contoh atau teladan untuk anak didiknya, karena guru peran yang penting pada anak usia dini tidak bisa ditanamkan hanya melalui melihat melainkan melalui pemberian contoh oleh guru. Oleh karena itu guru harus memiliki kompetensi dan perilaku yang dapat diteladani oleh anak didiknya salah satu bentuk dari cara guru menjelaskan.
Keterampilan menjelaskan Menurut Saud (2009:59) adalah keterampilan menyajikan informasi secara lisan yang diorganisasi secara sistematis untuk menunjukkan adanya hubungan antar satu bagian dengan bagian lainnya, misalnya antara sebab dan akibat, definisi dengan contoh atau dengan sesuatu yang belum diketahui.
Keterampilan menjelaskan Menurut Rusman (2010 : 86) keterampilan menjelaskan dalam pembelajaran adalah penyajian informasi secara lisan yang diorganisasi secara sistematis untuk menunjukkan adanya hubungan yang satu dengan yang lainnya, misalnya antara sebab dengan akibat, definisi dengan contoh atau dengan sesuatu yang belum diketahui. lanjutnya guru dikatakan memiliki keterampilan menjelaskan yang baik apabila selalu menjelaskan apa yang harus dijelaskanya, memanfaatkan dari keterampilan menjelaskan dengan baik, dengan menggunakan cara menjelaskan sesuai dengan apa yang ingin dijelaskan.
Menyikapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini yang makin hari makin pesat terlebih lagi dalam dunia pendidikan merupakan aset utama dalam mempertahankan citra suatu bangsa. Hal ini mendorong kita untuk lebih berperan aktif dalam mempersiapkan diri demi menghadapi situasi yang semakin mengglobal. Landasan utama kita untuk menghadapi situasi seperti ini tentunya tidak lain adalah ilmu dan pengetahuan karena tidak lain pasangan itu selalu bersamaan maka tidak menutup kemungkinan bahwa dunia pendidikan kita tidak akan mengalami kemunduran.
Dalam dunia pendidikan tentunya kita dihadapkan dengan masalah bagaimana aspek-aspek penunjang pendidikan itu bisa tercapai. Salah satu aspek penunjang pendidikan tersebut adalah bagaimana fungsi dan peran guru dalam proses belajar mengajar, maka hal ini tidak lepas pula dari permasalahan mengenai tugas guru dalam mengembangkan tugas-tugas pendidikan sebagai profesinya.
Demikian pula halnya dengan mahasiswa sebagai calon guru di mana pendidikan merupakan keharusan bagi dirinya baik sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial. Untuk tercapainya tujuan pendidikan dan pengajaran secara efektif dan efisien, maka bagi seorang guru dan calon guru diperlukan adanya berbagai keterampilan dasar dalam mengajar.
Penguasaan terhadap keterampilan ini memungkinkan guru mampu mengelola kegiatan pembelajaran secara lebih efektif. Dengan penguasaan keterampilan dasar mengajar, guru diharapkan mampu meningkatkan kualitas proses pembelajaran sehingga dengan demikian mutu pendidikan dapat terwujud dengan baik.
B. PEMBAHASAN
1. PENGERTIAN MENGAJAR
Mengajar bukan sekedar proses transformasi bahan atau penuangan bahan pada subjek didik, tetapi mengajar lebih dari itu, yakni menjadikan anak aktif, mengolah apa yang dibimbing sehingga akan mengalami perubahan dan pengembangan, keterampilan-keterampilan, sikap, ide, penghargaan, pengetahuan, dan lain-lain.
Sudjana (1989: 3) mengemukakan bahwa mengajar adalah membimbing kegiatan siswa belajar, mengajar adalah mengatur dan mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa sehingga dapat mendorong dan menumbuhkan siswa melakukan kegiatan belajar.
Dengan demikian mengajar merupakan bimbingan atau pertolongan pada seseorang untuk mencapai hasil belajar. Rumusan ini juga di samping terpusat pada siswa yang belajar, juga melihat hakikat mengajar sebagai proses yakni proses yang dilakukan oleh guru dalam menumbuhkan kegiatan belajar siswa.
Hasibuan (1995: 37) mengemukakan bahwa mengajar merupakan suatu kegiatan yang kompleks. Perbuatan mengajar yang kompleks dapat diterjemahkan sebagai penggunaan secara integratif sejumlah komponen yang terkandung dalam perbuatan mengajar itu untuk menyampaikan pesan pengajaran.
Adapun komponen-komponen dalam perbuatan mengajar dapat diuraikan sebagai berikut :
a .Mengajar sebagai ilmu (teaching as a science), mengajar sebagai ilmu mengacu kepada adanya suatu sistem ekspansi dan prediksi mendasarinya.
b. Mengajar sebagai teknologi (teaching as a technology), mengajar dalam kaitan sebagai teknologi dilihat sebagai prosedur kerja dengan mekanisme dan seperangkat alat yang dapat dan harus diuji secara empiris.
c. Mengajar sebagai seni (teaching as an art). Hakikat seninya terwujud dalam kenyataan bahwa aplikasi, prinsip, mekanisme, dan alat yang termaksud terjadi, secara unik memerlukan pertimbangan-pertimbangan situasional, bahkan penyesuaian-penyesuaian transaksional yang banyak ditentukan oleh perasaan dan naluri, jadi tidak semata-mata bertolak dari sekumpulan dalil dan rumus yang bersifat individual.
d. Pilihan nilai (wawasan kependidikan guru), bersumber pada pilihan nilai atau wawasan kependidikan yang dianut guru. Wawasan kependidikan guru yang dimaksud terpulang pada tujuan umum pendidikan nasional yang dapat ditelusuri kepada rumusan-rumusan yang formal maupun kepada asumsi-asumsi konseptual filosofinya yang mendasar.
e. Mengajar sebagai keterampilan dasar (teaching as a skill), mengajar merupakan suatu proses penggunaan sperangkat keterampilan secara terpadu.
2. PENGERTIAN KETERAMPILAN MENJELASKAN
Menjelaskan berarti menyajikan informasi lisan yang diorganisasikan secara sistematis dengan tujuan menunjukkan hubungan. Penekanan memberikan penjelasan adalah proses penalaran siswa, dan bukan indoktrinasi. Memberikan penjelasan merupakan salah satu aspek yang penting dalam perbuatan guru.
Beberapa alasan mengapa keterampilan menjelaskan perlu dikuasai adalah sebagai berikut :
a. Pada umumnya imteraksi komunikasi lisan di dalam kelas “didominasi” guru.
b. Sebagian besar kegiatan guru adalah informasi, untuk itu efektivitas pembicaraan perlu ditingkatkan.
c. Penjelasan yang diberikan guru sering tidak jelas bagi siswa, dan hanya jelas bagi guru sendiri.
d. Tidak semua siswa dapat menggali sendiri informasi yang diperoleh dari buku, kenyataan ini menuntut guru untuk memberikan penjelasan kepada siswa untuk hal-hal tertentu.
e. Sumber informasi yang tersedia yang dapat dimanfaatkan siswa sendiri sangat terbatas.
f. Guru sering tidak dapat membedakan antara menceriterakan dan memberikan penjelasan.
3. TUJUAN KETERAMPILAN MENJELASKAN
a.Untuk membimbing siswa memahami dengan jelas jawaban dari pertanyaan “mengapa” yang dikemukakan oleh guru atau yang diajukan oleh siswa.
b. Menolong siswa mendapat dan memahami hukum, dalil, dan prinsipprinsip umum secara objektif dan bernalar.
c. Melibatkan siswa untuk berpikir memecahkan masalah atau pertanyaan.
d. Untuk mendapat balikan dari siswa mengenai tingkat pemahamannya dan untuk mengatasi kesalahan pengertian mereka.
e. Menolong siswa untuk menghayati dan mendapat proses, peralatan, dan penggunaan bukti dalam penyelesaian keadaan (situasi) yang meragukan (belum pasti).
4. PRINSIP-PRINSIP KETERAMPILAN MENJELASKAN
a. Penjelasan dapat diberikan di awal, di tengah, atau di akhir jam pertemuan, tergantung kepada keperluan.
b. Penjelasan dapat diselingi tanya jawab.
c. Penjelasan harus relevan dengan tujuan pembelajaran.
d. Penjelasan dapat diberikan bila ada pertanyaan dari siswa atau direncanakan oleh guru.
e. Materi penjelasan harus bermakna bagi siswa.
f. Penjelasan harus sesuai dengan latar belakang dan kemampuan siswa.
5. KOMPONEN KETERAMPILAN MENJELASKAN
Dalam garis besarnya komponen keterampilan menjelaskan meliputi:
a. Merencanakan penjelasan Dalam merencanakan penjelasan perlu diperhatikan isi pesan yang akan disampaikan dan penerima pesan (siswa dengan segala kesiapannya)
b. Menyajikan penjelasan
Beberapa komponen yang perlu diperhatikan adalah:
1) Kejelasan: kejelasan tujuan, bahasa, dan proses penjelasan merupakan kunci dalam memberikan penjelasan.
2) Penggunaan contoh dan ilustrasi: contoh dan ilustrasi akan mempermudah siswa yang sulit dalam menerima konsep yang abstrak, biasanya pola umum untuk menghubungkan contoh dengan dalil adalah pola induktif dan pola deduktif.
3) Memberikan penekanan: penekanan dapat dikerjakan dengan cara mengadakan variasi dalam gaya mengajar (variasi dalam suara, mimik) dan membuat struktur sajian, yaitu memberikan informasi yang menunjukkan arah atau tujuan utama sajian (dapat dikerjakan dengan memberi ikhtisar, pengulangan, atau memberi tanda).
4) Pengorganisasian: pengorganisasian dapat dikerjakan dengan cara membuat hubungan antara contoh dalil menjadi jelas dan memberikan ikhtisar butir-butir yang penting selama ataupun pada akhir sajian.
5) Balikan: untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa, balikan dapat diperoleh dengan cara memperhatikan tingkah laku siswa, memberikan kesempatan siswa menjawab pertanyaan guru, dan meminta pendapat siswa apakah penjelasan yang diberikan bermakna atau tidak.
Tingkah laku menjelaskan merupakan keterampilan mengajar yang sangat ditentukan oleh pengetahuan dan kreativitas guru. Tidak ada dua orang guru yang menerapkan keterampilan mengajar secara persis sama.
6. MACAM-MACAM TEKNIS MENJELASKAN
1. Bertanya
Guru biasanya memulai pelajaran dengan mengajukan pertanyaan. Pertanyaan ini sesuai dengan bahan atau materi yang akan disampaikan kepada siswa. (dalam kegiatan-kegiatan pembukaan di TK terlihat dalam pembahasan tema atau sub tema yang akan dibicarakan hari tersebut). Kadangkala pertanyaan juga dipandang sebagai pertanyaan dengan maksud agar perhatian siswa terpusat pada bahan pelajaran yang akan disampaikan. Dan biasanya siswa jika dihadapkan dengan suatu pertanyaan mereka akan takut jika tidak bisa menjawabnya. Oleh karena itu mereka akan selalu mengulangi bahan yang telah disampaikan untuk mempersiapkan diri jika suatu saat guru menanyakannya dalam kelas (sewaktu berlangsungnya jam pelajaran).
2. Penjelasan
Tidak sepenuhnya pertanyaan dari guru dapat terjawab oleh siswa. Dengan berbagai teknik bertanya secara tidak langsung berarti siswa dapat memiliki sebagian bahan pelajaran yang akan diberikan oleh guru di kelas. Sehingga guru harus menjelaskan dengan memberikan keterangan secukupnya terhadap sebagian lain pelajaran yang direncanakan. Contoh: “dipegunungan banyak sekali pepohonan, penduduknya sedikit dan udaranya segar. Sedangkan di Jakarta pepohonan sedikit, penduduknya banyak dan udaranya kotor karena mobil-mobil dan mesin pabrik mengeluarkan udara kotornya. Sehingga udara terasa semakin panas dan kita menghirup udara kotor yang bisa menyesakan pernapasan”.
3. Memberikan contoh
Pemahaman siswa terhadap konsep baru dapat ditingkatkan melalui pemberian contoh yang jelas dan nyata yang sedapat mungkin diambil dari kehidupan sehari-hari yang sekiranya mudah dicerna atau dipahami oleh siswa tersebut. Pemberian contoh yang dikaitkan dengan proses pengambilan kesimpulan dan dari pengambilan kesimpulan dikembangkan dengan contoh yang lebih dalam akan memberikan penjelasan yang efektif dan efisien. Sehingga memudahkan siswa dalam merangkaikan pikirannya untuk mencapai pemahaman yang mendalam. Contoh: “semua benda-benda yang terbuat dari besi dapat ditarik oleh magnet. Paku, peniti dan anak kunci terbuat dari besi. Jadi benda tersebut dapat ditarik oleh magnet. (cara induktif)
“kertas lipat, sedotan plastik dan pensil warna tidak dapat ditarik oleh magnet. Benda-benda tersebut bukan terbuat dari besi. Jadi benda-benda yang tidak terbuat dari besi tidak dapat ditarik oleh magnet. (cara deduktif)
C. PENUTUP
KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan Keterampilan menjelaskan dalam pengajaran adalah penyajian informasi secara lisan yang diorganisir dengan sistematis untuk menunjukkan adanya hubungan antara satu pesan dengan pesan yang lainnya, sehingga tercapailah suatu pemahaman yang diinginkan. Misalnya antara sebab dan akibat, definisi dengan contoh atau dengan suatu yang belum diketahui.
Penyampaian informasi yang terencana dengan baik dan disajikan dengan urutan yang sesuai dengan tujuan yang diinginkan merupakan ciri utama kegiatan menjelaskan. Pemberian penjelasan merupakan salah satu aspek yang penting dari kegiatan guru dalam berinteraksi dengan siswa di dalam kelas. Dan biasanya guru lebih mendominasi pembicaraan dan mempunyai pengaruh atau dapat mempengaruhi siswa melalui penjelasan dan perkataan yang disampaikannya,sehingga kadangkala siswa menuruti apa yang diutarakan oleh guru, dengan kata lain siswa mempercayai bahwa penjelasan dari guru itu benar, misalnya dalam memberikan fakta, ide atau pendapat. Oleh karena itu penjelasan guru haruslah tidak rancu dimana bisa mengakibatkan salah pengertian bagi siswa. Hal ini haruslah dibenahi untuk ditingkatkan keefektifannya agar tercapai hasil yang optimal dari penjelasan dan pembicaraan guru sehingga bermakna bagi siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Hasibuan, J. J. 1995. Proses Belajar Mengajar. Bandung: RemajaRosdakarya
Nasir, M. 1988. Metode Penelitian. Bandung: Rosda Karya
Sudjana, N. 1989. CBSA, Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru
Suparno, dkk. 1992. Program Pengalaman Lapangan. Jakarta: Depdikbud
Raflis K. (1985). Katerampilan Menjelaskan. Panduan Penajaan Mikro NO. 4. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.
S.L.La. Sulo et al. (1985). Pengajaran Mikro. Jakarta: Proyek Pengembangan Pendidikan Guru (P3G). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
No comments:
Post a Comment